Hantu Villa Yuliana Vs Covid-19

Tidak terasa, tahun 2021 sudah mendekati bulan puasa lagi. Yang artinya, hampir setahun sudah dunia dikacaukan pandemi virus covid-19. Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana cara paling tepat menyikapi covid ini, haruskah saya menganggapnya sebagai musibah? (Karena telah membunuh dua juta lebih manusia). Atau haruskah saya menanggapinya sebagai berkah? (Karena telah mengurangi aktivitas manusia yang merusak lingkungan). Jikalau kamu bukanlah seorang polisi moral, maka izinkanlah saya untuk sekali lagi berkata tidak tahu.


Berbicara tentang covid, tiba-tiba saja pikiran saya mengelana ke kampung halaman, lebih tepatnya tempat saya mengisolasi diri tuk pertama kali, kala akhirnya ekspansi virus telah sampai & menjangkiti banyak penduduk kota Daeng (Makassar).


Saya jadi teringat, kala lebaran idul fitri tahun lalu di masjid raya Watansoppeng (2020). kali pertama saya melihat lebaran begitu sunyi di kota Watansoppeng. Lebaran yang biasanya (sebelum covid) diisi dengan ramai senyum-salam-sapa serta momen mendekatkan yang jauh, harus digantikan oleh social distance serta tatapan saling curiga. Tak banyak terlihat senyum, tentu saja, sebab wajah masing-masing orang ditutupi masker pastinya.


Namun, selain karena bedanya rasa-rasa lebaran sebelum vs sesudah covid, ada hal lain yang membuat saya sulit melupakan lebaran saat itu. 


Saya tidak sedang membicarakan tentang berita seorang imam salah satu masjid di Soppeng, yang setelah beberapa jam menjadi imam sholat id, terkonfirmasi positif covid. Bukan, bukan! Saya sedang membicarakan hal lain.


Saya, lebih tepatnya, sedang membicarakan metode hukuman unik dari, entah apakah ini ide murni bapak bupati Kazwadi Razak, ataukah mungkin dari tim Satgas Covid, atau mungkin dari Satpol PP, atau mungkin semuanya; yang mencoba memberi efek jera para pelanggar protokol kesehatan- keluyuran & berkumpul di malam hari saat itu.


"Anak-anak lebih takut dikasi bermalam di mess tinggi (Villa Yuliana), daripada corona", demikianlah barangkali perkataan bapak bupati Kazwadi Razak, ketika menceritakan respon para pemuda saat akan dihukum menginap di Villa Yuliana, dalam laporan kinerja penanganan covid pemerintah di Bumi Latemmamala, tepat setelah sholat id dilaksanakan.


Tak tahu kenapa perasaan saya tergelitik, mendengar para anak-anak remaja yang terkena razia itu jauh lebih takut dengan imaji hantu di situs peninggalan belanda, ketimbang covid-19 itu sendiri.



Villa Yuliana: Situs Peninggalan Belanda Yang Katanya Terkenal Angker


Penjelasan Psikologi Tentang Kemampuan Melihat Hantu

Sekiranya, bukan orang Soppeng namanya jika tidak mengenal bangunan bersejarah ini. Villa Yuliana, atau yang menurut penduduk lokal dinamai Mess Tinggi. Dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905, Sebagai persiapan tempat persinggahan, ketika terdengar kabar bahwa sang Ratu Yuliana akan berkunjung ke Indonesia. 


Entah sejak kapan cerita angker bangunan indah ini dimulai. Saya sendiri memang sudah sering mendengar cerita-cerita mistisnya semenjak duduk di bangku kelas dua SD. Diceritakan oleh nenek saya sendiri, yang menurut dugaan saya, tentu saja ia dapatkan dari cerita ke cerita orang lain juga.


Cerita-cerita horor seperti; suara derap langkah kaki serdadu tentara hantu, kisah seseorang yang berpindah kamar dengan sendirinya kala menginap di sana, penampakan sosok perempuan berbusana ala belanda, mahluk berjubah putih, barang-barang di dalam bangunan yang bergoyang sendiri, hingga rumput hijau pekarangan yang melembek seolah-olah berubah jadi lumpur hisap. Semua cerita itu menjadi bumbu-bumbu mistis yang semakin menguatkan sisi keangkeran bangunan kolonial tersebut.


Sayang, sudah berulangkali saya ke sana, berkunjung baik pagi maupun malam hari, duduk seperti pertapa sinting dari malam hingga tembus fajar, mencoba mencari-cari pengalaman mistis serupa, tak satupun saya dapatkan pengalaman horor seperti yang diceritakan.



Kenapa Seseorang Bisa Melihat Hantu?


Hantu Di Villa Yuliana Soppeng Sulawesi Selatan
Sumber: gambarlucusunda.blogspot.com


Kenapa seseorang bisa melihat hantu di Villa Yuliana? 


Well, 3 tahun sebelum Villa Yuliana dibangun sebenarnya, Bapak Psikologi Amerika, William James dalam bukunya yang berjudul The Varieties Of Religious Experience: A Study of Human Nature (1902), telah menjelaskan bahwa pengalaman religius atau mistisme, bisa jadi berhubungan dengan gangguan otak. Menurutnya, kondisi di mana seseorang melihat hantu itu ringkasnya tidak lebih daripada "kegilaan delusi" saja 🤣.


Premis bahwa hantu itu ada karena banyak orang bisa melihatnya, sebetulnya sudah bisa dipatahkan dengan hasil studi penelitian Universitas Adelaide Australia pada tahun 1994, yang menemukan hubungan antara kasus skizofrenia dengan kepercayaan paranormal. 


Dengan kenyataan bahwa terdapat lebih dari 20 juta orang di seluruh dunia mengidap skizofrenia, bisa ditarik dugaan bahwa orang-orang yang melihat hantu di Villa Yuliana berkemungkinan punya potensi mengidap skizofrenia juga. 


Pada tahun 2006 di sebuah rumah sakit Jenewa, terdapat sebuah temuan tak sengaja yang berhubungan dengan dugaan ini. Salah seorang perempuan yang sedang menjalani prosedur operasi epilepsi, merasakan kehadiran hantu dengan sensasi sangat nyata di belakangnya, tepat setelah para ahli bedah menstimulasi area otak tempopariental kiri si perempuan.


Berangkat dari temuan itu, para peneliti kemudian mengembangkan sebuah studi yang cukup menarik di tahun 2014. Dilakukan oleh Blanke & timnya di Swiss, mencoba memindai otak 12 orang yang dilaporkan memiliki kemampuan "raga sukma" serta mengaku dapat merasakan mahluk halus.


Dari hasil pemindaian tersebut, didapatkan hasil bahwa kedua belas orang itu ternyata memiliki kerusakan otak yang sama, pada tiga area yang sudah diketahui menjadi salah satu penyebab Skizofrenia bila bermasalah; Insula, Prefrontal Cortex (PFC), dan Korteks Tempopariental (TPC).


Ketiga area otak; Insula, Prefrontal Cortex, dan Korteks Tempopariental sebenarnya berfungsi dalam menggabungkan informasi dari indera dan gerakan tubuh, serta dalam mengendalikan tubuh kita. Apabila ketiga area otak ini terganggu sinyalnya, maka kita besar kemungkinan sulit membedakan mana yang realitas dan mana yang khayalan.


Hal-hal seperti faktor kelelahan, keracunan makanan, hingga kekurangan oksigen dapat mempengaruhi ketiga area tersebut. Itu sebabnya seringkali kejadian seperti melihat mahluk mistis juga dialami oleh para pendaki.



Lebih Takut Sama Hantu Daripada Corona, Berita Baik Atau Buruk?


Bila dipikir-pikir lagi, menentukan sesuatu itu bernilai baik atau buruk, seringkali sama rumitnya dengan memastikan sesuatu itu ada atau tiada.


Kita tentu saja tidak bisa menggeneralisir bahwa semua penduduk yang mengakui keangkeran Villa Yuliana terganggu otaknya. Tidak, tidak! Tentu saja tidak! Sebab kemungkinan yang mengaku pernah mengalami kejadian mistis di bangunan tersebut tentu bisalah dihitung jari, sedang selebihnya paling hanya bercerita dan menyebarluaskan saja.


Tapi terlepas dari itu, dengan begitu banyaknya orang yang percaya mentah-mentah & secara sukarela menyebarluaskan informasi tersebut, bukan hanya di Soppeng, tapi juga di seluruh Indonesia, bukan tidak mungkin bisa jadi gambaran betapa tertinggalnya pendidikan kita saat ini.


Izinkan saya menggunakan istilah "Kesadaran Magis" ala Paulo Freire, untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita dalam konteks artikel ini. Paulo Freire (dalam bukunya; Pendidikan Kaum Tertindas, 1968) menjelaskan bahwa terdapat tiga tingkatan kesadaran pada manusia; kesadaran magis, kesadaran naif, & kesadaran kritis. Kesadaran magis menurutnya, merupakan tingkat kesadaran paling rendah dari manusia.


Masyarakat dengan kesadaran magis, biasanya hanya menggantungkan segala sesuatunya kepada hal-hal supranatural / mistis, seperti dewa, malaikat, mahluk halus, atau mahluk superior tak nyata lainnya. Mereka lebih percaya pada mitos & takdir, ketimbang pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya lebih empiris nan ilmiah. Penggambaran kesadaran magis pada masyarakat Indonesia ini sebenarnya sudah terlalu sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jikalau merujuk pada konteks artikel ini, yah itu tadi; orang-orang yang lebih takut dengan hantu Villa Yuliana daripada Covid-19.


Beberapa orang mengatakan bahwa kesadaran magis ini biasanya hanya terdapat pada kaum miskin marginal tak berpendidikan. Tapi, menurut saya, orang-orang kaya berpendidikan bahkan yang namanya sudah malang melintang di kampus-kampus ternama pun, bisa jadi masih mengadopsi kesadaran tersebut juga.


Mari kita ambil contoh, dari orang nomor satu di Kementrian Kesehatan saat itu, The Great Dr. Terawan. Perhatikan video berita di bawah ini:



"Indonesia kebal virus Corona, semua karena Doa". Terlepas dari tagline berita yang mungkin terkesan sedikit framing, serta dengan mengedepankan asumsi bahwa Dr. Terawan berkata jujur & tidak punya niat sama sekali menyembunyikan informasi kepada masyarakat, maka mari kita menjadikan dokter yang terkenal dengan terapi "Brain-Spa" nya ini sebagai contoh penganut kesadaran magis.


Siapa yang tidak kenal dokter Terawan? Dokter yang terapi temuannya telah diseminarkan di kampus-kampus besar ini, mulai dari Unhas, UGM, hingga UI, yang sempat dipinang oleh Presiden Jokowi tuk jadi Menteri Kesehatan di awal masa jabatannya. Kita tentu masih ingat betapa gagahnya Dr. Terawan saat menangkis hasil penelitan sekelas Universitas Harvard. Meski tentu saja, kita semua pada tahu bagaimana akhirnya.


Terlibatnya kesadaran magis pada bagaimana Dr. Terawan menanggapi pandemi ini, tentu saja sudah kita lihat dampaknya; peremehan demi peremehan pemerintah yang berujung pada masuknya virus secara tidak terkendali. Mengakibatkan kematian hingga 34 ribu lebih penduduk Indonesia (data / 20 februari 2021).


Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya (eh, pepatahnya sudah benarkah? he-he-he), pemerintah yang seharusnya jadi representasi saja begini, apalagi masyarakatnya. 


Menurut skor PISA 2018, pendidikan Indonesia menempati posisi ke 70 dari 78 negara dalam hal performa melek literasi, sains & matematika. Berada jauh di bawah negara Asia Tenggara lainnya seperti; Singapura (2), Malaysia (48), & Brunei Darussalam (50). Rendahnya tingkat melek literasi, sains, & matematika Indonesia ini bukan tidak mungkin menjadi penyebab mengapa seseorang lebih takut dengan hantu ketimbang covid-19.


Pentingnya evaluasi dari berbagai instansi yang bertanggung jawab terhadap pendidikan di Indonesia, tentu sangat diharapkan. Mengingat, selain harus menghadapi pandemi covid-19, Indonesia juga harus bersaing dengan negara lain dalam revolusi industri 4.0, era di mana inovasi & sains menjadi senjata yang mutlak guna menuju kemajuan.


***

Silahkan Kirimkan Komentarmu Di sini Kawan!